
News Lintas Sulawesi/Makassar, Sulsel
KETUA Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M) UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Muhammad Ramli, M.Si mewanti-wanti agar mahasiswa yang akan melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN), harus sudah divaksin. Hal ini diakuinya menjadi salah satu persyaratan, mengingat masih tingginya kasus-kasus Covid-19 di Indonesia, khususnya di Sulawesi-Selatan.
Saat berbicara pada Pembekalan KKN yang diselenggarakan di Ruang Senat Rektorat Lantai IV, Rabu, 15 September 2021, secara virtual (daring) dan tatap muka, Ketua LP2M menuturkan bahwa, pelaksanaan KKN tetap harus mematuhi protokol kesehatan yang ada, bahkan sebelum berangkat mahasiswa harus sudah divaksin. Hadir Wakil Rektor, Kepala Biro, dan para Dekan Fakultas.
Dikatakan, mengawali pelaksanaan KKN tahun ini, pihaknya telah melakukan kunjungan ke sejumlah kabupaten di Sulsel, sebagai daerah obyek sasaran KKN, mengecek kesiapan pemerintah se tempat, dan menyambut baik rencana KKN, meski pelaksanaan tetap mematuhi aturan kesehatan dengan penerapan prokes 3M atau 5M.

Hal lain yang menjadi penekanan Ketua LP2M pada pembekalan yang dibuka Rektor UIN Alauddin, Prof. Dr. Hamdan Juhannis, MA, adalah melakukan upaya memutus rantai penularan virus Covid 19, dengan melarang mahasiswa KKN kembali ke Makassar, sebelum KKN selesai selama 45 hari.
Dalam pelaksanaan KKN regular ini, lanjutnya, berbeda dengan KKN yang dilakukan sebelumnya yakni KKN-DK (dari kampung). KKN-DK sebutnya, berorientasi pada pelaksanaan KKN di daerah asal mahasiswa. Selain karena situasi Covid 19 yang melanda negeri saat itu, KKN-DK juga dimaksudkan sebagai upaya mengembalikan mahasiswa untuk pengabdian di daerah asalnya.
Sementara itu, Rektor UIN Alauddin dalam arahannya menyampaikan bahwa, pelaksanaan KKN adalah merupakan momentum mendialogkan pengetahuan, dan pengalaman yang dipelajari di kampus untuk diterapkan di masyarakat.
‘’KKN itu empirik (nyata). Sebab itu, mahasiswa diuji secara mental dan sosial di tengah-tengah publik,’’ tandas Rektor, seraya mengingatakan mahasiswa agar dalam ber KKN, tidak memilih lokasi yang dekat tapi lokasi yang jauh bahkan yang terjauh sekalipun, sehingga bisa betul mengembangkan materi yang dimiliki.
Di momentum KKN, juga harus dihadirkan arena bangun jarak dengan keluarga. Menurut Rektor, orang yang selalu bersama kita (keluarga) untuk melakukan refleksi, kalau dekat tidak akan terukur berapa pentingnya kedekatan itu, sehingga perlu dibangun jarak sosial yang ada.

Sebagai kaum terdidik, mahasiswa memiliki kelebihan dibanding dengan masyarakat lainnya. Sebab itu, Rektor mengatakan, mahasiswa adalah penggerak, sehingga KKN menjadi arena uji coba, atau dialog mentalitas mewujudkan kesalehan sosial.
Kepala Pusat Pengabdian pada masyarakat Dr. Shuhufi, M.Ag., mangatakan KKN Angkatan 66 dan 67 berjumlah 3.126 mahasiswa, akan ditempatkan pada 14 kabupaten di Sulsel, 41 kecamatan, 403 Desa/Posko. Dijadwalkan diberangkatkan pada Oktober 2021 didampingi 35 orang pembimbing dari semua fakultas.
Tampil menyampaikan materi pada pembekalan ini Wakil Menteri Agama, Drs. H. Zainut Tauhid Sa’adi, M.Si dan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Raden Febrytriyanto, SH, MH., yang dipandu oleh Dr. Hj Yuspiani, M.Pd. yang juga Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan dan Kerjasama.
Taufan, S.Ag, Analis Kerjasama LP2M, mengatakan, kegiatan mahasiswa KKN juga berupa kegiatan pembinaan siswa di kelas berupa tatap muka dan kegiatan kerohanian/keagamaan, melalui pembinaan ibadah.
(Sudirman/Makassar/red)
(Editor : Muh Aidil)