

News Lintas Sulawesi/PALU, Sulteng
Relawan Pasigala, Moh. Raslin, bersama timnya melakukan pemantauan dan penelusuran di empat titik lokasi pembangunan rehabilitas dan rekonstruksi (rehab rekon) sekolah yang molor tersebut, yakni M.Ts. Petobo, SDN 1 SDN 2, dan SD Inpres Petobo. Di lansir dari Media Lokal Radar Sulteng, 26 Oktober 2021.
Dalam penelusuran Relawan Pasigala di empat titik lokasi pembangunan rehab dan rekon sekolah di Kelurahan Petobo Kota Palu, terlihat progres pencapaian target pekerjaan masih variatif antara 50 persen sampai 70 persen. Padahal waktu pelaksanaan pekerjaan tersebut telah lama berakhir atau sekitar sembilan bulan terhitung dari penandatanganan kontrak kerja oleh kontraktor pelaksana PT. Sentra Multikarya Infrastruktur 5 juni 2020, dengan waktu pelaksanaan 210 hari kalender dengan nilai kontrak Rp 37.413.102.000,- sumber dana Bank Dunia. Artinya bahwa saat berita ini dilansir, pekerjaan tersebut telah mengalami keterlambatan sekitar 270 hari..
“ Bangunan sekolah tersebut belum bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, “ ungkapnya.
Relawan Pasigala, Moh. Raslin bersama timnya Afdal dan Nurcahyohadi tak tanggung-tanggung kali ini menurunkan tim yang dibackup oleh Lembaga Bantuan Hukum Garda Keadilan Nusantara (LBH-GKN) Aceng Lahay, SH.
Tim ini menemukan adanya dugaan penggunaan aksesoris yang tidak dipersyaratkan, terlihat pada plat strip dari struktur bangunan tersebut sudah banyak berkarat.BERITA TERKAIT
“Dimana peranan quality control dalam mengawasi penggunaan aksesoris yang tidak layak tersebut. Panel-panel pun diinstal sangat amburadul. Terlihat jelas tidak persis antara panel yang satu dengan panel lainnya, “ paparnya lagi.
Oleh karena itu, Raslin bersama timnya kesal miliaran dana yang digelontorkan melalui utang Bank Dunia namun pembangunan rehab rekon sekolah tersebut dibangun asal-asalan. Raslin bersama timnya akan terus melakukan penelusuran dan monitoring yang dijadwalkan ke lokasi pembangunan sekolah yang lain, yang ada di Kabupaten Sigi meliputi M.Ts. Bobo, Kaleke, Balamba, Bangga dan Pombewe.
Saat tim Relawan Pasigala mengkonfirmasi kepada koorlap dari kontraktor pelaksana PT. SMI, Tambunan, memberikan keterangannya bahwa salah satu faktor dari keterlambatan pekerjaan tersebut adalah curah hujan tinggi dan banyaknya pencurian di sekitar lokasi pekerjaan.
Namun pernyataan Tambunanl tersebut ditepis oleh Afdal salah seorang jurnalis independen yang mengatakan bahwa hal tersebut tidak ada kaitannya dengan alasan keterlambatan yang dikemukakan oleh koorlap tersebut. Menurut Afdal, pernyataan tersebut hanya sebuah argumen yang tidak beralasan.
Yahdi : Ini fakta bahwa Penanggulangan Bencana di Sulteng Memang Bobrok
Sejak sy pimpin Pansus P3B (Pengawasan Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana) 28-9, pada Nopember 2018 hingga September 2019, memang kinerja Pemerintah & Pemerintah Daerah saya nilai sebagai RAPORT MERAH.
Banyak bengkalai aspek rehabilitasi & rekonstruksi yg ditinggalkan hingga usainya Pilkada pada Desember 2020 sebagai sirkulasi kekuasaan pemerintahan daerah, baik Gubernur maupun Kabupaten/Kota. Termasuk Kab/Kota terdampak bencana minus Donggala dan Parigi Moutong.
Nah, maka pemerintahan daerah yg baru ini, harus kerja lebih ekstra dengan skema yg lebih inklusif.
“Kalau manajemen nya terbuka, korupsi jadi minim, sebab publik berhak pantau langsung, mana² pekerjaan rehab-rekon yang harusnya diselesaikan prioritas. Infrastruktur Sekolah ini hal yg sangat vital dalam proses rehab-rekon kita”.
Bisa jadi benar sinyalemen Gubernur Cudy, “Ada yang coba menari-nari di atas derita korban bencana”.
Ini musti di kawal ketat, diawasi kuat oleh badan² pemeriksa dan dipantau publik.
(INUM-CP/Sulteng/red)