Hari ke 16, semakin ingin Pulang…

News Lintas Sulawesi/Palu, Sulteng

Pagi ini, Orangtua Istha diukur tensi dan saturasi oksigennya. Tekanan darah 131/90, saturasi oksigen 96, suhu badan 35,8°C. Kemarin mama sukses 24 jam tanpa oksigen bantuan. Hari sebelumnya, pagi hingga magrib tanpa oksigen. Semoga hari ini jadi hari ke 3 observasi perkembangan paru-parunya tanpa oksigen bantuan dan bisa dilewati 24 jam dengan saturasi yang stabil.

Mama pengen sekali pulang, ujar Istha (dalam Laman Facebooknya) Tapi masa observasinya diputuskan dokter menjadi 4 hari. Berarti, jika sukses, lusa kami bisa kembali ke rumah. Mama terus melatih paru-parunya. Lungs therapy cukup dengan mengatur pernafasan. Inhale & exhale, hitung dalam siklus 3-5 detik sesuai kemampuan pasien. Ada yang lebih canggih, inhale dan menahan nafas, membaca suratul fatiha. Paru-paru sehat mungkin mampu, meski tentu sulit dengan tajwid yang benar dan pasti terburu-buru.

Rahasia mama bisa cepat memulihkan paru-parunya untuk menaikkan saturasi oksigen ini ya inhale exhale ini. Waktu lagi krisisnya saturasi 50, saya meyakinkan mama untuk melakukannya minimal 5-6 siklus. Bagus sekali kalau sambil di nebu. Sejak hari pertama di IGD sampai hari ke 7 menerima perawatan dengan nebulizer, mama melakukan saran saya dengan baik. Hari ke 8, mama sudah ubah masker oksigennya. Nanti akan saya post 3 jenis masker oksigen yang mama pakai, Pungkasnya.

Lungs therapy ini saya baca di twitter. Seorang dokter di London yang merupakan penyintas covid, sampai didampingi oleh therapist untuk menormalkan fungsi otot paru-parunya. Ternyata ini perlu sekali dilakukan, sebab menggunakan oksigen bantuan selama seminggu atau lebih, membuat otot paru-paru kaku dan sulit bernafas. Therapy sederhana, murah, bermodalkan kepercayaan dan kesehatan mental bahwa oksigen tidak akan habis, pasien harus diyakinkan untuk melakukan ini. Saya yakin sekali, karena terbukti pada mama.

Lanjut Istha, pagi ini kami berjemur lebih awal. Mulai jam 8.17 WITA sudah duduk di mini garden depan ruang perawatan. Pasien di Paviliun Jambu ini sedikit unik. Banyak berinteraksi, kalau berjemur mirip orang kompleks yang rumpi. Duduk melingkar, mencari posisi pas dibawah matahari, mengenakan masker dan tentu menjaga jarak. Ragam topik dibahas. Mulai dari berapa lama berada disini, gejala dan bebalnya sebelum terkena covid, hingga jokes tentang rindu rumah.

Paviliun lain, tidak melakukan hal yang sama seperti kami disini. Obrolan sore hari bisa berubah jadi seperti anak asrama/kosan yang ketawanya pecah dan membangunkan tetangga tidur. Penduduk Paviliun Jambu bertekad, usai keluar dari sini, jika pulih Insya Allah, akan menjadi relawan covid. Terutama bagi yang isoman. Karena tidak sedikit dari pasien disini yang merasakan penderitaan krisis kala isoman, serta merasa sendirian. Bahkan ada yang menjadi korban julid tetangga karena rumahnya dikunjungi satgas covid untuk memantau kondisinya.

Tanpa bermaksud politis, karena case hp saya masih custom yang edisi pemilu, mereka mengenali saya sebagai kader NasDem. Kami berdiskusi banyak hal. Mereka juga termasuk orang-orang yang merasakan kehadiran NasDem sejak tahun lalu mulai berbagai giat untuk saling menguatkan kala pandemi. Beberapa nama, seperti nama kak Yahdi Basma juga disebut. Rupanya, berbagai kegiatan sosial politik kita juga menjadi bacaan mereka. Kami sering bertukar pikiran, mereka pun tertarik dengan pola NasDem yang humanis. Mungkin kalau tidak mendampingi mama sebagai pasien, saya punya waktu luang, mungkin saya sudah melakukan recruitment e-KTA.

Di Paviliun Jambu ini perawatnya juga baik. Jika diberi skala 1-10, mereka saya kasih nilai 9. Gambar dibawah ini saya ambil baru saja, sesaat sebelum membuat tulisan ini. Makanya, anglenya tidak bagus. Kesannya terburu-buru. Sedangkan video mantri mengganti tabung oksigen saya ambil semalam. Betapa cekatannya mereka. Mendatangi pasien, memantau, dengan telaten dan uletnya merawat, menyemangati dan memotivasi pasien untuk sembuh. Hal yang tidak mereka dapatkan di RS sebelumnya, ujar salah seorang pasien yang korban pindah RS.

Mantri yang mengganti tabung oksigen ini paling rajin. Berdua dengan kawannya, sama-sama orang kaili (bukan rasis, kebetulan saja). Paling perhatian, seperti to kaili jaman dulu, orang-orang tua seangkatan nenekku itu penuh kasih sayang, bijak, dan hangat. Santai dengan rokoknya. Eh, tapi mantri ini tidak merokok. Kan pakai APD 😅 dia ini rajiiiiiinnnnn sekali. Tidak ada pemandangan tabung oksigen kosong, tumpukan sampah, apalagi infus pasien yang habis. Bahkan tabung-tabung cadangan oksigen sudah disiapkan persis dekat bed pasien. Telaten sekali. Jam dinasnya itu seperti jam ideal untuk pasien. Kalo waktunya cek pasien, paling lama sampe 5 menitan sama mace. Segala dicerita, curcol soal nikahlah, sampe soal saling menyemangati. Saking akrabnya so te panggil Ibu Rosnawati ke pasien, maceku dipanggil tante. Wkwk 😀

Perawat/mantri telaten begini perlu dipertahankan. Meski ada yang agak julid, mungkin capek karena bertugas 5 jam pakai APD lengkap. Beberapa dari mereka ada yang mundur, mungkin karena kurang motivasi. Saya berterimakasih kepada yang masih bertahan menjadi garda terdepan. Meski harus lari-lari mencari regulator, terseok mengangkut tabung karena alat pengangkutnya rusak (lebih sering diputar/dorong dengan tangan), bahkan kuwalahan karena bertugas hanya 2 orang untuk 1 paviliun, kalian tetap bertahan. Kata dua mantri ini, sudah 21 hari dikarantina selama bertugas. Tidak pulang juga mereka. Tapi, itu kewajiban. Sesekali, saya melihat banyak bed rusak yang sudah ada “cetak body” pasien yang terlalu lama berbaring dibuang. Kekurangan bed, kurang pula daya tampung pasien. Faskes kita harus lebih diperhatikan lagi. Jika Joko Widodo menganugerahkan penghargan bagi Nakes yang berguguran, mengapa kita tak memulai apresiasi pada yang masih bertahan?

Bukankah kita sama-sama percaya, untuk menjaga yang setia? Entah pada siapa kegundahan tentang kurangnya fasilitas yang ada di faskes ini diutarakan. Miris, karena serapan anggaran covid rendah, bukan hanya tracing yang diperlukan. Coba rapat dengan bidang teknis tiap faskes, didampigi direkturnya. Evaluasi, kekurangannya dimana. Kalau memang perlu dan ada lahan kosong, bangun saja bangunan baru untuk tampung pasien gejala sedang-berat covid. Kalo butuh anggaran untuk insentif nakes, segerakan. Lebih baik antisipasi dan susun road map untuk penanganannya. Karena varian delta sudah mutasi jadi delta plus, bahkan ada varian baru lagi, pandemi ini bisa saja 2-4 tahun. Jangan sampai kita collapse dan tergagap-gagap terus menerus. Kita juga butuh stok oksigen untuk yang isoman. Penanganan covid semua ditanggung negara, gratis. Jadi pasien tidak perlu hawatirkan itu. Ucap nakes disini pada pasien yang gelisah dan hawatir dengan konsekuensi pembiayaan perawatannya. Lantas mengapa tak berlakukan sama pada yang isoman di rumah? Ayo, kita gotong royong. Berbenah, evaluasi, duduk sama-sama, pikirkan apa langkah yang paling tepat untuk keluar dari situasi pelik pandemi ini. Jangan diam menunggu, ayo mulai. Jangan baku bantah, baku bantu.


(Sumber : Ista Nur Masyitha/red)

(Editor : Aidil)

Tinggalkan komentar